BANGKO – Bupati Merangin, M. Syukur, mengajukan usulan pemberdayaan warga Suku Anak Dalam (SAD) kepada Kementerian Sosial (Kemensos) melalui Direktorat Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (PKAT).
Usulan itu disampaikan dalam rapat koordinasi persiapan Kunker Kemensos di Rumah Dinas Bupati, Senin (26/1) kepada Direktur PKAT, I Ketut Supena.
Dalam paparannya, Bupati meminta agar 15 Tumenggung SAD di Kabupaten Merangin difasilitasi program budidaya ikan sistem keramba di kawasan Dam Betuk, Desa Tambang Baru Kecamatan Tabir Lintas.
Langkah ini diambil sebagai upaya pemerintah daerah untuk menarik warga SAD keluar dari aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) dan memberikan mereka sumber ekonomi yang berkelanjutan.
Bupati M. Syukur mengungkapkan bahwa baru-baru ini, warga SAD dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk menjadi penjaga keamanan di lokasi PETI.
Melalui pendekatan persuasif, Bupati mengaku telah berhasil meminta mereka meninggalkan aktivitas ilegal tersebut.
"Saya bilang, kamu harus keluar dari situ. Akhirnya mereka keluar semua dan sekarang PETI di sana sebagian besar sudah tidak ada. Dam Betuk ini memiliki potensi besar untuk perikanan, jadi saya ingin 15 Tumenggung itu punya perwakilan keramba di sana," ujar Bupati di hadapan jajaran Kemensos.
Lebih lanjut, Bupati M. Syukur menuturkan pentingnya pola pendampingan yang spesifik bagi warga SAD. Ia menyarankan agar bantuan yang diberikan tidak berupa uang tunai secara langsung, melainkan dalam bentuk modal kerja dan sarana produksi yang dikelola dengan pengawasan dinas terkait.
"Kita mengajarkan mereka untuk berproses. Pendekatannya tidak boleh terlalu kaku agar efektif. Hasil dari keramba itu nantinya kita beli kembali, sehingga perputaran uang tetap ada pada mereka untuk membeli bibit baru lagi," jelasnya.
Kata Bupati, warga SAD pada dasarnya adalah pencinta alam yang mandiri dan patuh pada hukum adat. Namun, modernisasi dan kebutuhan hidup yang meningkat membuat mereka mulai mengenal nilai uang, sehingga diperlukan alternatif mata pencaharian yang ramah lingkungan.
Meski masih ada stigma negatif di masyarakat, M. Syukur optimis warga SAD bisa beradaptasi dengan kehidupan modern tanpa kehilangan identitas budayanya.
Ia mencontohkan bagaimana warga SAD kini sudah mulai terbuka menerima arahan, seperti mulai tertib berlalu lintas saat diingatkan.
"Kami tidak ingin mereka dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab. Melalui pembinaan berkelanjutan ini, harapan kami mereka dapat hidup sejahtera berdampingan dengan masyarakat luas tanpa harus mengorbankan identitas dan budaya asli mereka," pungkas Bupati.
Melalui program ini, Pemerintah Kabupaten Merangin berharap Kemensos dapat memberikan dukungan penuh, baik dari segi pendanaan maupun tenaga ahli pendamping, agar ekosistem ekonomi di Dam Betuk benar-benar mampu mensejahterakan 15 kelompok Tumenggung tersebut. (Indra/van/Kominfo)